
MAAF
(sebuah
monolog)
By: Siti Susanti
By: Siti Susanti
-Indahya dunia ini, dan hamper saja aku lupa akan
keindahan yang abadi (akhirat). Kini aku telah kering kerontang, tak ada anak,
saudara, ataupun siapapun orang yang menemaniku. Mungkin inikah balasan bagi
orang yang telah menumpuk dosanya?
(alunan
music yang lembut semakin lama semakin keras dan seakan semakin menusuk relung
hatinya)
-Apakah ini, akankah ini pertanda bahwa aku
akan mati? Apa sebenarnya kesalahanku? Aku tak berbuat apa-apa, aku hanya…
hanya… hanya membuat anakku tak
bernafas. (seketika suasana hening, dan hanya terdengar suara detikan jam yang
semakin lama semakin pelan dan akhirnya berhenti)
-Waktu kini berhenti untukku, dan apakah waktu
juga tak ingin melihat bayangan muka seorang pembunuh? (menjerit histeris dan
kemudian tertawa) ha… hahaha… aku pembunuh, bukan aku bukan pembunuh. Aku hanya
menghilangkan nyawa anakku sendiri, ituu membunuh.
-(musik kembali terdegar, kini ia ketakutan karena seolah dia dalam kejaran
ribuan binatang buas yang siap memangsanya) Kalian tau anakku pergi kemana?
(pandanganya kosong) Anakku kini telah tiada, ia pergi entah kemana pergi jauh…
jauh… dan sangat-sangat jauh. Dan tangan ini yang telah membutnya tiada. (suara
petir menyambar) Iya… aku mengakuinya, aku anya bingung akan keadaanku, semua
orang sudah mengetahuinya, kau meninggalkanku disaat aku tengah mengandung
anakmu ini. Aku kesal dan amat benci denganmu apakah itu salah? Apakah harus
aku menjadi seperti wanita itu untuk berharap kau kembali padaku? (hening
sementara) ya… aku akui wanita itu jauh lebih cantik daripada aku, dan dia 1000
kali lebih kaya daripadaku, tetapi kau tak dapat tinggalkanku dengan keadaanku
yang seperti sekarang ini. Mau kau kemanakan anakkmu? Taukah engkau, aku
menangis sepanjang malam setelah kau pergi… aku tak dapat tiddur karenamu dan aku terus menerus
minum. Kau tau sayang baru pertama kali ini aku terlalu banyak minum dan itu
membuat anak kesayangan kita tak dapat mempertahankan hidupnya. Sayangku (anak)
aku ibu yang kejam bukan?
-(seperti ada suara tangisan bayi) dengar…
kalian dengar itu, itu adalah suara anakku yang baru lahir, anakku yang malang
kesini nak… mendekat pada ibu, ibu sangat sayang kamu, tapi ayahmu selingkuh
sehingga kau jadi begini. Dimana kau sayangku… dimana… apa kau ingin bermain
petak umpet dengan ibumu yang jahat ini? (mengambil boneka yang ada
disampingnya) kau disini… (bermain-main dengan boneka tersebut seolah-olah
seperti bermain dengan anaknya, dan saat itu pula terdengar suara alunan music
yang merdu mengiringi seorang ibu yang merasa sangat bersalah akan kematian
anaknya)
-(bersenandung)… waktu hujan turun… rintik
pelahan, bintangpun menyepi, awan menebal. Ku timang si buyung anakku sayang
buah hati seorang tidurlah tidur… ibu menjaga ayah berdo’a……………………… ayah? Apa
yang dimaksud ayah oleh anakku adalah suamiku? Suamiku… (menangis kemudian
tertawa)
Suamiku,
suamiku jahat, kejam, biadab… dialah yang sebenarnya yang harus bertanggung
jawab akan engkau putrku. Dia dahulu berjanji dengan ribuan kata-kata manis,
tetapi dia selingkuh… dia meninggalkan aku disaat aku tengah mengandungmu
anakku. Dan aku ceritakan yang sebenarnya ya anakku, … hari itu ibumu ini
diceraikan da ditinggal pergi oleh ayahmu… dan ibumu ini terlalubanyak minum,
minum… dan minum. Aku kira aku dapat melupakan semua masalahku tetapi apa… aku
malahan kehilangan kau putraku.
-(menangis) aku tahu engkau marah padaku
putraku, tapi taka apa… ibu tahu perasaanmu. Apa kau kesepian disana, (menatap
boneka yang ditimangnya)… iya, baiklah kalau kau kesepian ibu akanmenemanimu.
Tunggu ibu ya nak, tunggu !!!!!
(melihat-lihat
sekitar, dan disitu ia melihat sebuah pisau dan langsung mengambilnya) oh… iya
aku tahu, pisau dapat membuatku bertemu denganmu… (melihat-lihat sekeliling)
tak ada orang melihat kan????? Anakku ibu sayang kamu. (meotong urat nadinya
dengan pisau dan akhirnya meninggal)
*cerita
ini hanya dibuat untuk hiburan semata. Semoga menikmati.
Terima Kasih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar