XI IPA 2
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarokatuh
Alhamdulillah
hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fih kamaa yuhibbu Robbuna wa yardho, wa
asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa asy-hadu anna Muhammadan
‘abduhu wa rosuluh. Allahumma sholli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa
shohbihi wa sallam.
Yang
terhormat Bapak Sunarna, S.Pd. , yang saya hormati Ketua Panitia kelas XI IPA
2, serta tak lupa teman-teman kelas IPA 2 yang saya cintai. Pertama marilah
kita panjatkan Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,
taufik, hidayah, serta inayah-Nya kepada kita sehingga kita dapat berkumpul di
kelas XI IPA 2 ini dengan sehat dan tanpa suatu halangan apapun. Amin.
Saudaraku yang semoga selalu
mendapatkan taufik Allah Ta’ala.
Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
penutup para Nabi, tidak ada Nabi lagi sesudah beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
memiliki kedudukan yang mulia dengan syafa’at
al ‘uzhma pada hari kiamat kelak. Itulah di antara keistimewaan Abul
Qosim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam.
Seorang muslim punya kewajiban
mencintai beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam lebih dari makhluk lainnya.. Seperti firman Allah SWT :
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ
وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا
وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ
مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ
اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah:
‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya,
dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan
Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang fasik.” (Qs. At Taubah: 24)
Ibnu Katsir mengatakan, “Jika semua
hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di
jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 4/124)
Ancaman keras inilah yang
menunjukkan bahwa mencintai Rasul dari makhluk lainnya adalah wajib. Bahkan
tidak boleh seseorang mencintai dirinya hingga melebihi kecintaan pada nabinya.
‘Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami
pernah bersama Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab –radiyallahu ‘anhu-. Lalu Umar –radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku
cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata,
“Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya
(imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu
sendiri.”
Kemudian ‘Umar berkata,
“Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah)
lebih aku cintai daripada diriku sendiri.”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
“Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah
sempurna).” (HR. Bukhari)
Cinta bukanlah hanya klaim semata.
Semua cinta harus dengan bukti. Di antara bentuk cinta pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
ittiba’ (mengikuti), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya. Karena
ingatlah, ketaatan pada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah buah dari kecintaan.
Penyair Arab mengatakan: Sekiranya cintamu itu benar niscaya engkau
akan mentaatinya
Karena orang yang mencintai tentu akan mentaati orang yang dicintainya
Karena orang yang mencintai tentu akan mentaati orang yang dicintainya
Cinta pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bukanlah dengan melatunkan nasyid atau pun sya’ir yang indah, namun enggan
mengikuti sunnah beliau. Hakikat cinta pada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah dengan mengikuti (ittiba’) setiap ajarannya dan
mentaatinya. Semakin seseorang mencintai Nabinya maka dia juga akan semakin
mentaatinya.
Seorang ulama mengatakan:
“Yang terpenting bukanlah engkau mencintai-Nya. Namun yang terpenting
adalah bagaimana engkau bisa dicintai-Nya.’
Yang terpenting bukanlah engkau
mencintai Nabimu. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa
mendapatkan cinta nabimu. Begitu pula, yang terpenting bukanlah engkau
mencintai Allah. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa
dicintai-Nya.
Hadirin yang berbahagia,
Apabila kita melihat orang-orang di
sekitar kita, banyak orang yang hanya memikirkan cinta duniawi semata, mereka
sangat memuja-muja cinta yang mungkin hanya bersifat sementara. Contohnya
‘pacar’ , satu hari tidak bertemu dengan orang yang merasa dikasihinya setiap
waktu adanya hanya nyanyi saja “sekian lama… aku menunggu untuk kehadiranmu,
bukankah engkau telah berjanji kita jumpa disini….” Masya’ Allah, kalau sudah
bertemu apa lagu yang akan di nyanyikan yaitu “kerinduan hatiku yang selama
ini… terobati karena tersiram air hujan…” tapi tunggu dulu, ada yang lebih
heboh lagi, apakah itu? Jika mereka sudah pisah alias putus cinta, pasti mereka
akan mengungkapkan perasaanya pada lagu yang sedang hits ini “ ku berlari kau
terdiam, ku menangis kau tersenyum, ku berduka kau bahagia, kupergi kau
kembali…. Memang kita ta’kan menyatu” . begitu banyak fenomena cinta, tetapi
apakah yang demikian itu benar? Tidak !!!
Hadirin yang dirahmati Allah SWT,
Mulai Sekarang marilah kita mencoba
sedikit demi sedikit untuk menjadi seorang yang sempurna, walaupun tidak
sempurna dalam fisik kita tetapi mencobalah untuk menyempurnakan hati kita
dengan Cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, serta berjihad di jalan Allah
SWT.
Demikian yang dapat saya sampaikan,
semoga uraian kata ini dapat bermanfaat bagi semua, ada kurang lebihnya saya
mohon maaf.
Wabillahi
taufik wal hidayah Wassalamu’alaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar