Selasa, 05 Februari 2013

Ini Text Da'wah kelas XI IPA 2 dalam acara maulid nabi kemarin,


XI IPA 2
Assalamu’alaikum Warahmatullahi  Wabarokatuh

Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fih kamaa yuhibbu Robbuna wa yardho, wa asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuluh. Allahumma sholli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Yang terhormat Bapak Sunarna, S.Pd. , yang saya hormati Ketua Panitia kelas XI IPA 2, serta tak lupa teman-teman kelas IPA 2 yang saya cintai. Pertama marilah kita panjatkan Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayah, serta inayah-Nya kepada kita sehingga kita dapat berkumpul di kelas XI IPA 2 ini dengan sehat dan tanpa suatu halangan apapun. Amin.
Saudaraku yang semoga selalu mendapatkan taufik Allah Ta’ala.
Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi lagi sesudah beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan yang mulia dengan syafa’at al ‘uzhma pada hari kiamat kelak. Itulah di antara keistimewaan Abul Qosim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Seorang muslim punya kewajiban mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari makhluk lainnya.. Seperti firman Allah SWT :

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Qs. At Taubah: 24)
Ibnu Katsir mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 4/124)
Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasul dari makhluk lainnya adalah wajib. Bahkan tidak boleh seseorang mencintai dirinya hingga melebihi kecintaan pada nabinya.

‘Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab –radiyallahu ‘anhu-. Lalu Umar –radhiyallahu ‘anhu- berkata,
 “Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
 “Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”
Kemudian ‘Umar berkata,
 “Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
 “Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna).” (HR. Bukhari)

Cinta bukanlah hanya klaim semata. Semua cinta harus dengan bukti. Di antara bentuk cinta pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ittiba’ (mengikuti), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya. Karena ingatlah, ketaatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah buah dari kecintaan.
Penyair Arab mengatakan: Sekiranya cintamu itu benar niscaya engkau akan mentaatinya
Karena orang yang mencintai tentu akan mentaati orang yang dicintainya
Cinta pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah dengan melatunkan nasyid atau pun sya’ir yang indah, namun enggan mengikuti sunnah beliau. Hakikat cinta pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mengikuti (ittiba’) setiap ajarannya dan mentaatinya. Semakin seseorang mencintai Nabinya maka dia juga akan semakin mentaatinya.
Seorang ulama mengatakan:
Yang terpenting bukanlah engkau mencintai-Nya. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa dicintai-Nya.’
Yang terpenting bukanlah engkau mencintai Nabimu. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa mendapatkan cinta nabimu. Begitu pula, yang terpenting bukanlah engkau mencintai Allah. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa dicintai-Nya.
Hadirin yang berbahagia,
Apabila kita melihat orang-orang di sekitar kita, banyak orang yang hanya memikirkan cinta duniawi semata, mereka sangat memuja-muja cinta yang mungkin hanya bersifat sementara. Contohnya ‘pacar’ , satu hari tidak bertemu dengan orang yang merasa dikasihinya setiap waktu adanya hanya nyanyi saja “sekian lama… aku menunggu untuk kehadiranmu, bukankah engkau telah berjanji kita jumpa disini….” Masya’ Allah, kalau sudah bertemu apa lagu yang akan di nyanyikan yaitu “kerinduan hatiku yang selama ini… terobati karena tersiram air hujan…” tapi tunggu dulu, ada yang lebih heboh lagi, apakah itu? Jika mereka sudah pisah alias putus cinta, pasti mereka akan mengungkapkan perasaanya pada lagu yang sedang hits ini “ ku berlari kau terdiam, ku menangis kau tersenyum, ku berduka kau bahagia, kupergi kau kembali…. Memang kita ta’kan menyatu” . begitu banyak fenomena cinta, tetapi apakah yang demikian itu benar? Tidak !!!
Hadirin yang dirahmati Allah SWT,
Mulai Sekarang marilah kita mencoba sedikit demi sedikit untuk menjadi seorang yang sempurna, walaupun tidak sempurna dalam fisik kita tetapi mencobalah untuk menyempurnakan hati kita dengan Cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, serta berjihad di jalan Allah SWT.
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga uraian kata ini dapat bermanfaat bagi semua, ada kurang lebihnya saya mohon maaf.

Wabillahi taufik wal hidayah Wassalamu’alaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar