Semua
akan Indah pada Waktunya
Udara pagi begitu segar, angin
semilir menggerakkan ratusan helai daun di depan kamarku. Dari jendela kulihat
matahari mulai bersinar, suasana yang masih belum begitu ramai menemani
nyanyian burung-burung yang begitu merdu. Dari pintu masuk terdengar suara
langkah kaki yang semakin mendekat, dan kemudian terdengar suara ketukan pintu.
“ayo... cepetan mandi, jangan sampai hari pertama
kamu masuk sekolah menjadi perkenalan yang buruk bagimu, cepet-cepet.” Kata
mamaku
“iya mamaku yang cantik....”
Benar, hari ini adalah hari pertama aku masuk ke
Sekolah Menengah Atas. Aku berharap aku bisa menjadi yang terbaik dalam sekolah
itu.
Hari
pertama aku masuk ke sekolah, rasanya serba bingung karena tak ada satupun
orang yang aku kenal, tapi aku tak mau begini terus. Akhirnya aku mempunyai
satu teman yang kurasa nasibnya sama seperti aku, namanya Aprilia. Semasa SMP aku sering membayangkan, bahwa aku
di SMA mempunyai seseorang yang spesial yang katanya itu namanya adalah “pacar”.
Aku sering membayangkan itu, aku juga sering membayangkan saat aku denganya
belajar bersama, bercanda, dan saling memberi motivasi satu sama lain. Pasti
menyenangkan.
Hari pertama aku masuk di SMA merupakan ajang
perkenalan, baik sesama murid baru, dengan kakak kelas, guru maupun lingkungan
sekolah. Selain itu hari ini adalah hari pembagian kelas sementara di SMA kami
disebutnya Rumpun. Dari sinilah ceritaku dimulai.
Di Rumpun
X aku berkenalan dengan banyak teman, salah satunya adalah Diyo. Menurutku dia
adalah cowok yang paling cakep di rumpun X. Aku sering memperhatikanya, saat
dia duduk... bercanda dengan yang lain dan saat dia berbicara. Sepertinya aku
suka padanya. Sayangnya aku hanya bisa tiga hari satu kelas denganya karena
kelas yang memisahkan. “tak apalah aku berpisah denganya, toh itu hanya dalam
lingkup kelas... yang penting aku masih bisa satu sekolah dengannya walaupun
berbeda kelas.” gumanku dalam hati.
Semakin hari rasanya aku semakin ingin mengenalnya,
setiap hari aku berangkat pagi untuk melihatnya berangkat sekolah melewati
depan kelasku.
Hari
ini aku menunggunya lewat depan kelas, aku duduk di depan kelas sambil membaca
sebuah buku non-fiksi. Entah mengapa hari ini dia tak kunjung beranngkat,
padahal waktu sudah tinggal 5 menit lagi sebelum bel masuk. Aku duduk dengan
sedikit melamun, tiba-tiba terdengar suara Pipit dan Afin yang memecahkan
lamunanku.
“hayoo... lagi nungguin siapa ???” kata Pipit
meledek.
“nungguin aku ya... udah kangen sama aku, baru aja
pisah satu hari... udah kangen-kangenan segala.” Afin menambahkan.
“tau aja, kalau aku nunggu kalian... nunggu kalian
buat bayar hutang.... hahahaha.” Jawabku
Pipit dan Afin adalah sahabat dekatku disini.
Semenjak kita berkenalan satu minggu yang lalu, rasanya kami langsung akrab dan
terasa begitu dekat. Kami bertiga selalu berbagi, disaat kami sedih maupun
disaat kami sedang gembira, jadi tak heran meskipun baru satu minngu yang lalu
kami saling berkenalan tetapi rasanya sudah seperti sahabat yang telah terjalin
selama bertahun-tahun.
Hari
ini, kelas X A2 latihan upacara, rasanya males banget, udah panas belum lagi
yang membimbing Upacara galak-galak jadi sebel.
“kabur aja yuk... ke kantin mumpung kak OSIS-nya
nggak lihat, aku capek banget... panas pula.” Ajak Afin
“tapi Fin, nanti kalau ketahuan kaya gimana
coba???”kataku
“kalau ketahuan ya tinggal bilang aja, kakak kami
capek... panas... ditambah lagi kakaknya galak jadi makin sengsara aja hidupku.
Gitu aja gimana?” kata Pipit
“pinter juga kamu, kadang-kadang tapi...” sambung
Afin
“okk... terserah aja lah.” Kataku
Tanpa kami tersadar ternyata salah satu kak OSIS ada
dibelakang kami bertiga serta mendengar semua perkataan kami.
“bagus banget ya mau kabur... “
“hehe... enggak Cuma bercanda aja kok kaa.”
“bercanda-bercanda... sudah merasa pintar kalian?
Tidak menghargi orang, kami sudah rela panas-panas melatih kalian, tapi kalian
malah kaya gini...”
“itukan sudah resikonya kali... u u ups keceplosan,
maaf kak kami nggak bermaksud kaya gitu kak maaf ya...” kataku
“Pokoknya karena kalian sudah kaya gitu, kalian
kakak hukum... berdiri di depan tiang bendera selama 15 menit saat jam
istirahat nanti.”
“apa??????” serentak
“nggak usah bawel, atau mau kalian kakak laporkan ke
Kepala Sekolah?”
“enggak kak, udah berdiri aja...” kata Pipit
Saat tiba jam istirahat, kami bertiga berdiri di
depan tiang bendera, menurutku ini adalah pengalaman terburuk yang pernah aku
lakukan.
Dari depan kelas X B1, X B2, X B3 terlihat banyak
siswa yang memandang kearah kami bertiga, dan tak jarang dari mereka tertawa
akannya.
Hari
selanjutnya tak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, aku masih tetap
menunggu Diyo berangkat sekolah. Aku duduk bersama kedua sahabatku, dan yang
paling aku suka adalah saat melihat Diyo melewati depan kelasku, meskipun tak
pernah senyum. Tapi aku senang karena katanya itu ya... Cinta itu tidak untuk
menerima tetapi untuk memberi, cinta tidak untuk ingin didengar tetapi untuk
mendengarkan... katanya.
“yes... dia berangkat juga...” kataku
“siapa?” kata Afin dan Pipit heran
“bukan siapa-siapa kok, itu pak guru lewat...”
jawabku
“ah... masa? Pasti Diyo kan?” kata Afin
“yang bener aja... bukan ya,”
“udahlah jangan bohong... kita itu kan sahabat jadi
apa salahnya kita saling membantu,” kata pipit
“maksudnya?”
“kamu suka sama Diyo kan?”
“enggak...” aku gemetaran saat kedua temanku
bertanya demikian, seakan aku seperti berada dalam kerumunan polisi yang sedang
mengintrograsiku dimana pertanyaan itu tidak dapat aku jawab.
“udahlah... kita pasti bantu kamu kok.”
“ok. Emang aku suka sama .....”
“tu kan.... ketahuan.” Kata Afin dan Pipit
“ihhhh... kalian mau dengerin lanjutanya apa
enggak?”
“harus.... “kata pipit
“tapi kalian jangan ketawa ya... sebenernya aku suka
sama Diyo sejak pertama kali massuk SMA karena menurutku dia itu sopan, sedikit
pendiam daripada yang lain, baik. Dan tau nggak setiap pagi aku selalu
menunggunya lewat depan kelas, aku sangat suka saat dia tersenyum. Senyumanya
manis banget. Andai saja senyuman manis itu untukku sepenuhnya, siapa yang
tidak senang. “
“tapi kenapa kamu nggak bilang sama kita An?”
“aku malu jika aku harus bilang sama kalian... nanti
yang ada kalian pasti mentertawakanku.”
“kita kan sahabat jadi kita harus saling membantu,
harus saling terbuka karena tidak akan ada istilah untuk mantan sahabat
meskipun kita terhalang oleh tebing yang sanggat tingga atau waktu sekalipun.”
“makasih ya... kalian memang sahabatku.”
Terhitung
satu tahun sudah sejak aku mengenal dan jatuh hati dengannya. Aku tak menyangka
aku akan menunggunya sampai selama ini meskipun yang aku dapat hanyalah
pengharapan yang mungkin sia-sia. Tapi tak apalah cinta itukan untuk memberi
bakan untuk memiliki, dan aku yakin Tuhan mempunyai rencana dibalik semua ini.
Semua akan indah pada waktunya.
Di kelas XI sekarang aku mencoba bergabung dalam
OSIS, aku ingin lebih mengerti tentang ke-organisasian. Dan hal yang membuat
aku suka dalam OSIS ini salah satunya adalah adanyaa Diyo dalam organisasi itu.
Bisa jadi motivasi.
Rapat OSIS pertamaku adalah rapat OSIS yang paling
berkenang, karena dalam rapat kali ini aku duduk bersebelahan dengan Diyo.
Seneng banget rasanya. Rasanya itu gimana ya... gemetaran rasanya serba salah
kalau mau melakukan sesuatu. RIBET!!!. Dalam rapat pertama OSIS pula, aku dan
Diyo berkenalan untuk yang kedua kalinya. Dari sinilah aku dan Diyo mulai
dekat, dekat dan semakin dekat.
Dua
tahun sudah terlewat, sekarang adalah tahun ketiga aku dalam sebuah
pengharapan. Sejak awal aku yakin semua akan indah pada waktunya, tetapi untuk
yang satu ini pendirianku sudah mulai goyah. Aku tak tahu sampai kapan aku
terus berharap dan sampai kapan aku terus menanti.
Hari
itu aku pergi ke Perpustakaan bersama teman-temanku. Aku ingin meminjam sebuah
novel, rencananya. Tapi semua tak seperti apa yang aku inginkan. Tepat didepan
mataku aku melihat Diyo sedang berpelukan dengan Ayu. Ayu adalah gadis yang
cantik, cerdas dan baik.
Hatiku seakan dihancurkan oleh pisau silet yang amat
tajam. Setelah itu aku tidak jadi meminjam novel di perpustakaan. Aku langsung
pergi.
Malam
ini aku terus menangis, padahal aku Diyo itu bukan siapa-siapa. Ya... Tuhan,
apa yang terjai? Jika memeng dia orang yang aku sayang ijinkanlah aku untuk
menyimpan namanya, sematkanlah aku dalam setiap mimpi di tidurnya. Jadikanlah
aku orang yang penawar untuknya. Dan jika dia bukan orang yang aku sayangi,
hilangkanlah rasa ini untuknya. Amin....
Pagi harinya aku tak lagi menunggunya, karena aku
tahu dia sudah ada yang punya. Dan harapanku untuk bersamanya hanya
pengharapan.
“An... kenapa matamu bengkak?” tanya pipit
“kamu nangis semalaman ya... gara-gara Diyo?” tambah
Afin
“udah... nggak papa kok. Aku Cuma sedih aja tadi
malem lihat film, sedihhh banget. Jadinya nangis...”
“An... jangan bohong.” Kata Afin
“aku tak tahu kenapa aku terus saja menangis...
padahal sudah jelas aku bukan siapa-siapa Diyo, tapi rasanya saat aku melihat
dia bersama wanita lain ... hatiku sangat hancur. Kalau aku tahu akhirnya akan
seperti ini aku tidak akan menungggunya terlalu lama. Harusnya aku itu sadar
diri... siapa aku dan siapa dia...................”
“kamu jangan bilang begitu, kamu adalah wanita yang
paling gila yang pernah aku kenal tau nggak? Kamu menunggu orang yang kamu
sayang selama 3 tahun tanpa ada kata menyerah sedikitpun....” hibir pipit
“oh iya... gini aja pokoknya saat hari perpisahan
kita nanti Diyo belum mengungkapkan rasa itu sama kamu, kamu yang harus bilang.
Supaya kamu itu jadi lega... nggak Cuma berharap nggak jelas kaya gini. “ kata
Afin
“tapi apa nanti yang akan terjadi setelah aku
mengungkapkanya? Apa dia kan menerimaku?...” jawabku
“setidaknya berusahalah...” bentak Afin
“apa perasaanya akan berubah setelah dia tau bahwa
aku menunggunya selama 3 tahun? Akankah ada bedanya?” kataku
“terserah kamu saja deh, kami Cuma nggak mau melihat
sahabat kami tiap heri kaya begini...”
Aku langsung masuk ke kelas karena aku sudah tidak
tahan dengan semua yang aku rasakan sekarang ini. Semuanya terasa sangat
membebaniku, apa yang harus aku lakulkan?
Sejak kejadian itu, aku berusaha sekuat tenaga untuk
melupakan Diyo. Sekarang aku harus fokus dengan Ujian Nasional yang telah
menantiku di depan mata. Aku hanya ingin menjadi yang terbaik dalam ujian
nasional ini. Setiap hari aku belajar lebih keras dari siapapu untuk
mewujudkanya. Aku ingin menunjukan kepada mama, papa, teman-temanku dan untuk
Diyo... bahwa aku bisa menjadi yang terbaik. Tak perlu menjadi sempurna untuk
menjadi yang terbaik.
Hari
perpisahan sekolah tiba juga. Saat-saat yang paling aku nanti-nantikan, saat
semua yang aku pelajari selama 3 tahun ternyata tidak membuahkan kesia-siaan.
Aku mendapatkan nilai terbaik dalam Ujian Nasional. Semuanya seperti mimpi
bagiku, aku merasakan perasaan yang begitu senang... kecuali tentang perasaanku
pada Diyo yang tak kunjung aku ungkapkan. Dalam hati ini aku ingin segera
mengungkapkanya, karena aku tahu jalan hidupku masih panjang dan bukan hanya
memikirkan pengharapan tetapi aku perlu fakta.
Setelah acara perpisahan selesai, aku melihat Diyo
sedang duduk di depan kelasnya. Baru melihatnya saja aku sudah gemetaran. Akan
tetapi, dari hati aku ingin jujur dan setelah ini entah apapun yang terjadi
yang penting aku sudah berusaha. Aku mendekat dan duduk disamping Diyo.
“Di... aku mau bicara, boleh nggak?”tanyaku
“iya... silahkan aja, dari dulu memangnya aku pernah
melarangmu untuk bicara?”
“enggak juga. Di... begini, kamu percaya apa enggak
kalau ada orang yang menunggumu selama 3 tahun hanya untuk dapat mendapat
senyuman manis untuknya?”
“kurasa enggak, memangnya seandainya aku yang
bertanya demikian kamu akan percaya?”
“aku rasa aku percaya, dan sangat percaya...”
“kenapa...?” tanya Diyo
“karena aku adalah orang yang menunggu senyuman
itu... “ tanpa tersadar air mataku menetes, padahal aku sama sekali tak
menginginkanya...”aku telah menunggumu selama tiga tahun, dan kamu tahu apa
yang membuatku paling bahagia senyumanmu, hanya itu. Aku menyukaimu sejak aku
mengenalmu tiga tahun yang lalu. Dari saat itulah aku aku menunggu, kamu tau
nggak kenapa mataku sampai bengkak gara-gara menangis semalaman itu? Itu semua
karena kamu, aku melihatmu berpelukan dengan Ayu dan itu sangat sakit
menurutku. Aku berusaha untuk menjadi pintar dan tampil cantik, dan itu semua
karenamu.....” kataku
Diyo hanya terdiam dan menunduk. Kami berdua
terjebak dalam keheningan, tak ada suara yang aku dengar kecuali suara
tangisanku yang sulit sekali aku hentikan. Tiba-tiba seorang datang dan
memecahkan keheningan ini. Dia Ayu.
“kak... pulang yuk.”ajak Ayu pada Diyo
Diyo meninggalkanku, pergi dengan Ayu dan tanpa
mengatakan satu katapun untukku. Hanya keheningan yang ada padanya... hal yang
dapat akuu lakukan sekarang ini selain menangis hanyalah menahan rasa sakitnya
hati ini, yang mungkin telah diremukakan oleh orang yang aku rasa adalah orang
yang aku sayang. Aku menangis dan terus menangis. Dua sahabatku datang, dan
kami saling berpelukan. Aku rasa mereka berdualah yang paling mengerti
perasaanku saat ini selain Tuhan.
“TAK APA SAHABATKU... aku baik. Kurasa tidak ada hal
yang paling gila didunia ini yang pernah aku lakukan selain menanti cinta
seseorang selama tiga tahun, dan berakhir seperti ini. Aku senang. Aku sudah
dapat mengungkapkan semua perasaanku pada Diyo, apapun yang terjadi saat ini
aku yakin ada hikmahnya dan aku yakin semua akan indah pada waktunya... aku
bersama ataupun tidak dengan Diyo, semuanya akan sama saja kan?” kataku
Semalaman suntuk aku tidak bisa tidur karena
memikirkan hal tadi, aku terus terbayang akan kejadian tadi. Saat aku ingin
berhenti menangis semua itu terasa sangat berat, meskipun aku sekuat tenaga
agar aku berhenti menangis... air mataku seakan-akan tak dapat dikendalikan.
Tiga
hari berlalu. Aku masih belum bisa melupakan semua itu. Aku duduk disamping
meja belajarku, menatap indah mentari pagi. Di sebuah ranting pohon ada dua
burung yang yang sedang bercanda ria, saling menatap. Dari ruang tamu terdengar
mama memanggil namaku.
“An... An... kemari,”kata mama
“iya ma, bentaran.....”jawabku
Aku tiba di ruang tamu, terlihat mama sedang duduk
sambil memegang sebuah amplop yang tidak diketahui siapa pengirimnya.
“ini ada surat, nggak tahu dari siapa, tapi untuk
kamu ... tadi mama lihat ada di depan pintu jadi mama ambil aja.”
“ohhh... makasih ma.”
Aku langsung perg ke kama dan membaca surat dari
tanpa nama. Aku buka surat itu dan aku baca kata-perkata. Didalam surat itu
tertulis namaku.
“Hay An...
Maaf aku belum sempat minta maaf
sama kamu, aku juga udah buat kamu nangis, sedih, udah buat mata kamu jadi
bengkak gara-gara nengis semalaman. Dan yang paling aku sesali adalah aku
membuatmu melakukan hal yang menurutku sangat gila kaya tiga hari yang lalu.
Aku nggak bermaksud kaya gitu kok. Maaf ya... selama ini aku nggak pernah
bilang kalau aku juga suka sama kamu, aku diam bukkan berarti aku benci dan
nggak suka sama kamu, tapi aku benci sama aku sendiri. Bagaimana tidak? Aku
telah membuat orang yang aku sayang menangis. Asal kamu tahu saja, bila kamu
mulai suka denganku saat pertama kita kenalan kalau aku suk sama kamu saat kita
belum sama-sama mengenal, saat kita pertama daftar masuk SMA. Kamu inget nggak
sama orang anak yang duduk sendiri dibawah pohon karena nggak punya temen. Kamu
yang menemaniku, ya... aku tahu kamu pasti nggak lihat mukaku karena aku terus
menunduk. Jadi masih adakah kesempatan untukku? Jika memang aku masih punya
kesempatan untuk itu, aku pingin kamu datang ke taman dekat rumahmu jam 10.00
nanti. Oh iya lupa, soal Ayu.... sebenernya Ayu itu adik Sepupuku.”
Diyo
Aku sangat senang, melihat semua itu, rasanya semua
harapan yang selama ini aku pendam dan aku jaga tidak berakhir pada jalan
buntu.
Aku melihat ke arah jam, jam didndingku sudah
menunjukan pukul 09.50. aku langsung lari keluar dan tanpa sadar aku memakai dua
sepatu yang berlainan. Saat aku tiba di taman, aku melihat Diyo sedang duduk di
bangku taman dengan membawa serangkaian bunga mawar merah.
Dan seperti yang aku harapkan semuanya akan indah
pada waktunya.
-TAMAT-