Kamis, 25 April 2013

CERPEN



Semua akan Indah pada Waktunya


Udara pagi begitu segar, angin semilir menggerakkan ratusan helai daun di depan kamarku. Dari jendela kulihat matahari mulai bersinar, suasana yang masih belum begitu ramai menemani nyanyian burung-burung yang begitu merdu. Dari pintu masuk terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, dan kemudian terdengar suara ketukan pintu.
“ayo... cepetan mandi, jangan sampai hari pertama kamu masuk sekolah menjadi perkenalan yang buruk bagimu, cepet-cepet.” Kata mamaku
“iya mamaku yang cantik....”
Benar, hari ini adalah hari pertama aku masuk ke Sekolah Menengah Atas. Aku berharap aku bisa menjadi yang terbaik dalam sekolah itu.
            Hari pertama aku masuk ke sekolah, rasanya serba bingung karena tak ada satupun orang yang aku kenal, tapi aku tak mau begini terus. Akhirnya aku mempunyai satu teman yang kurasa nasibnya sama seperti aku, namanya Aprilia.  Semasa SMP aku sering membayangkan, bahwa aku di SMA mempunyai seseorang yang spesial yang katanya itu namanya adalah “pacar”. Aku sering membayangkan itu, aku juga sering membayangkan saat aku denganya belajar bersama, bercanda, dan saling memberi motivasi satu sama lain. Pasti menyenangkan.
Hari pertama aku masuk di SMA merupakan ajang perkenalan, baik sesama murid baru, dengan kakak kelas, guru maupun lingkungan sekolah. Selain itu hari ini adalah hari pembagian kelas sementara di SMA kami disebutnya Rumpun. Dari sinilah ceritaku dimulai.
            Di Rumpun X aku berkenalan dengan banyak teman, salah satunya adalah Diyo. Menurutku dia adalah cowok yang paling cakep di rumpun X. Aku sering memperhatikanya, saat dia duduk... bercanda dengan yang lain dan saat dia berbicara. Sepertinya aku suka padanya. Sayangnya aku hanya bisa tiga hari satu kelas denganya karena kelas yang memisahkan. “tak apalah aku berpisah denganya, toh itu hanya dalam lingkup kelas... yang penting aku masih bisa satu sekolah dengannya walaupun berbeda kelas.” gumanku dalam hati.
Semakin hari rasanya aku semakin ingin mengenalnya, setiap hari aku berangkat pagi untuk melihatnya berangkat sekolah melewati depan kelasku.
            Hari ini aku menunggunya lewat depan kelas, aku duduk di depan kelas sambil membaca sebuah buku non-fiksi. Entah mengapa hari ini dia tak kunjung beranngkat, padahal waktu sudah tinggal 5 menit lagi sebelum bel masuk. Aku duduk dengan sedikit melamun, tiba-tiba terdengar suara Pipit dan Afin yang memecahkan lamunanku.
“hayoo... lagi nungguin siapa ???” kata Pipit meledek.
“nungguin aku ya... udah kangen sama aku, baru aja pisah satu hari... udah kangen-kangenan segala.” Afin menambahkan.
“tau aja, kalau aku nunggu kalian... nunggu kalian buat bayar hutang.... hahahaha.” Jawabku
Pipit dan Afin adalah sahabat dekatku disini. Semenjak kita berkenalan satu minggu yang lalu, rasanya kami langsung akrab dan terasa begitu dekat. Kami bertiga selalu berbagi, disaat kami sedih maupun disaat kami sedang gembira, jadi tak heran meskipun baru satu minngu yang lalu kami saling berkenalan tetapi rasanya sudah seperti sahabat yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
            Hari ini, kelas X A2 latihan upacara, rasanya males banget, udah panas belum lagi yang membimbing Upacara galak-galak jadi sebel.
“kabur aja yuk... ke kantin mumpung kak OSIS-nya nggak lihat, aku capek banget... panas pula.” Ajak Afin
“tapi Fin, nanti kalau ketahuan kaya gimana coba???”kataku
“kalau ketahuan ya tinggal bilang aja, kakak kami capek... panas... ditambah lagi kakaknya galak jadi makin sengsara aja hidupku. Gitu aja gimana?” kata Pipit
“pinter juga kamu, kadang-kadang tapi...” sambung Afin
“okk... terserah aja lah.” Kataku
Tanpa kami tersadar ternyata salah satu kak OSIS ada dibelakang kami bertiga serta mendengar semua perkataan kami.
“bagus banget ya mau kabur... “
“hehe... enggak Cuma bercanda aja kok kaa.”
“bercanda-bercanda... sudah merasa pintar kalian? Tidak menghargi orang, kami sudah rela panas-panas melatih kalian, tapi kalian malah kaya gini...”
“itukan sudah resikonya kali... u u ups keceplosan, maaf kak kami nggak bermaksud kaya gitu kak maaf ya...” kataku
“Pokoknya karena kalian sudah kaya gitu, kalian kakak hukum... berdiri di depan tiang bendera selama 15 menit saat jam istirahat nanti.”
“apa??????” serentak
“nggak usah bawel, atau mau kalian kakak laporkan ke Kepala Sekolah?”
“enggak kak, udah berdiri aja...” kata Pipit
Saat tiba jam istirahat, kami bertiga berdiri di depan tiang bendera, menurutku ini adalah pengalaman terburuk yang pernah aku lakukan.
Dari depan kelas X B1, X B2, X B3 terlihat banyak siswa yang memandang kearah kami bertiga, dan tak jarang dari mereka tertawa akannya.
            Hari selanjutnya tak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, aku masih tetap menunggu Diyo berangkat sekolah. Aku duduk bersama kedua sahabatku, dan yang paling aku suka adalah saat melihat Diyo melewati depan kelasku, meskipun tak pernah senyum. Tapi aku senang karena katanya itu ya... Cinta itu tidak untuk menerima tetapi untuk memberi, cinta tidak untuk ingin didengar tetapi untuk mendengarkan... katanya.
“yes... dia berangkat juga...” kataku
“siapa?” kata Afin dan Pipit heran
“bukan siapa-siapa kok, itu pak guru lewat...” jawabku
“ah... masa? Pasti Diyo kan?” kata Afin
“yang bener aja... bukan ya,”
“udahlah jangan bohong... kita itu kan sahabat jadi apa salahnya kita saling membantu,” kata pipit
“maksudnya?”
“kamu suka sama Diyo kan?”
“enggak...” aku gemetaran saat kedua temanku bertanya demikian, seakan aku seperti berada dalam kerumunan polisi yang sedang mengintrograsiku dimana pertanyaan itu tidak dapat aku jawab.
“udahlah... kita pasti bantu kamu kok.”
“ok. Emang aku suka sama .....”
“tu kan.... ketahuan.” Kata Afin dan Pipit
“ihhhh... kalian mau dengerin lanjutanya apa enggak?”
“harus.... “kata pipit
“tapi kalian jangan ketawa ya... sebenernya aku suka sama Diyo sejak pertama kali massuk SMA karena menurutku dia itu sopan, sedikit pendiam daripada yang lain, baik. Dan tau nggak setiap pagi aku selalu menunggunya lewat depan kelas, aku sangat suka saat dia tersenyum. Senyumanya manis banget. Andai saja senyuman manis itu untukku sepenuhnya, siapa yang tidak senang. “
“tapi kenapa kamu nggak bilang sama kita An?”
“aku malu jika aku harus bilang sama kalian... nanti yang ada kalian pasti mentertawakanku.”
“kita kan sahabat jadi kita harus saling membantu, harus saling terbuka karena tidak akan ada istilah untuk mantan sahabat meskipun kita terhalang oleh tebing yang sanggat tingga atau waktu sekalipun.”
“makasih ya... kalian  memang sahabatku.”
            Terhitung satu tahun sudah sejak aku mengenal dan jatuh hati dengannya. Aku tak menyangka aku akan menunggunya sampai selama ini meskipun yang aku dapat hanyalah pengharapan yang mungkin sia-sia. Tapi tak apalah cinta itukan untuk memberi bakan untuk memiliki, dan aku yakin Tuhan mempunyai rencana dibalik semua ini. Semua akan indah pada waktunya.
Di kelas XI sekarang aku mencoba bergabung dalam OSIS, aku ingin lebih mengerti tentang ke-organisasian. Dan hal yang membuat aku suka dalam OSIS ini salah satunya adalah adanyaa Diyo dalam organisasi itu. Bisa jadi motivasi.
Rapat OSIS pertamaku adalah rapat OSIS yang paling berkenang, karena dalam rapat kali ini aku duduk bersebelahan dengan Diyo. Seneng banget rasanya. Rasanya itu gimana ya... gemetaran rasanya serba salah kalau mau melakukan sesuatu. RIBET!!!. Dalam rapat pertama OSIS pula, aku dan Diyo berkenalan untuk yang kedua kalinya. Dari sinilah aku dan Diyo mulai dekat, dekat dan semakin dekat.
            Dua tahun sudah terlewat, sekarang adalah tahun ketiga aku dalam sebuah pengharapan. Sejak awal aku yakin semua akan indah pada waktunya, tetapi untuk yang satu ini pendirianku sudah mulai goyah. Aku tak tahu sampai kapan aku terus berharap dan sampai kapan aku terus menanti.
            Hari itu aku pergi ke Perpustakaan bersama teman-temanku. Aku ingin meminjam sebuah novel, rencananya. Tapi semua tak seperti apa yang aku inginkan. Tepat didepan mataku aku melihat Diyo sedang berpelukan dengan Ayu. Ayu adalah gadis yang cantik, cerdas dan baik.
Hatiku seakan dihancurkan oleh pisau silet yang amat tajam. Setelah itu aku tidak jadi meminjam novel di perpustakaan. Aku langsung pergi.
            Malam ini aku terus menangis, padahal aku Diyo itu bukan siapa-siapa. Ya... Tuhan, apa yang terjai? Jika memeng dia orang yang aku sayang ijinkanlah aku untuk menyimpan namanya, sematkanlah aku dalam setiap mimpi di tidurnya. Jadikanlah aku orang yang penawar untuknya. Dan jika dia bukan orang yang aku sayangi, hilangkanlah rasa ini untuknya. Amin....
Pagi harinya aku tak lagi menunggunya, karena aku tahu dia sudah ada yang punya. Dan harapanku untuk bersamanya hanya pengharapan.
“An... kenapa matamu bengkak?” tanya pipit
“kamu nangis semalaman ya... gara-gara Diyo?” tambah Afin
“udah... nggak papa kok. Aku Cuma sedih aja tadi malem lihat film, sedihhh banget. Jadinya nangis...”
“An... jangan bohong.” Kata Afin
“aku tak tahu kenapa aku terus saja menangis... padahal sudah jelas aku bukan siapa-siapa Diyo, tapi rasanya saat aku melihat dia bersama wanita lain ... hatiku sangat hancur. Kalau aku tahu akhirnya akan seperti ini aku tidak akan menungggunya terlalu lama. Harusnya aku itu sadar diri... siapa aku dan siapa dia...................”
“kamu jangan bilang begitu, kamu adalah wanita yang paling gila yang pernah aku kenal tau nggak? Kamu menunggu orang yang kamu sayang selama 3 tahun tanpa ada kata menyerah sedikitpun....” hibir pipit
“oh iya... gini aja pokoknya saat hari perpisahan kita nanti Diyo belum mengungkapkan rasa itu sama kamu, kamu yang harus bilang. Supaya kamu itu jadi lega... nggak Cuma berharap nggak jelas kaya gini. “ kata Afin
“tapi apa nanti yang akan terjadi setelah aku mengungkapkanya? Apa dia kan menerimaku?...” jawabku
“setidaknya berusahalah...” bentak Afin
“apa perasaanya akan berubah setelah dia tau bahwa aku menunggunya selama 3 tahun? Akankah ada bedanya?” kataku
“terserah kamu saja deh, kami Cuma nggak mau melihat sahabat kami tiap heri kaya begini...”
Aku langsung masuk ke kelas karena aku sudah tidak tahan dengan semua yang aku rasakan sekarang ini. Semuanya terasa sangat membebaniku, apa yang harus aku lakulkan?
Sejak kejadian itu, aku berusaha sekuat tenaga untuk melupakan Diyo. Sekarang aku harus fokus dengan Ujian Nasional yang telah menantiku di depan mata. Aku hanya ingin menjadi yang terbaik dalam ujian nasional ini. Setiap hari aku belajar lebih keras dari siapapu untuk mewujudkanya. Aku ingin menunjukan kepada mama, papa, teman-temanku dan untuk Diyo... bahwa aku bisa menjadi yang terbaik. Tak perlu menjadi sempurna untuk menjadi yang terbaik.
            Hari perpisahan sekolah tiba juga. Saat-saat yang paling aku nanti-nantikan, saat semua yang aku pelajari selama 3 tahun ternyata tidak membuahkan kesia-siaan. Aku mendapatkan nilai terbaik dalam Ujian Nasional. Semuanya seperti mimpi bagiku, aku merasakan perasaan yang begitu senang... kecuali tentang perasaanku pada Diyo yang tak kunjung aku ungkapkan. Dalam hati ini aku ingin segera mengungkapkanya, karena aku tahu jalan hidupku masih panjang dan bukan hanya memikirkan pengharapan tetapi aku perlu fakta.
Setelah acara perpisahan selesai, aku melihat Diyo sedang duduk di depan kelasnya. Baru melihatnya saja aku sudah gemetaran. Akan tetapi, dari hati aku ingin jujur dan setelah ini entah apapun yang terjadi yang penting aku sudah berusaha. Aku mendekat dan duduk disamping Diyo.
“Di... aku mau bicara, boleh nggak?”tanyaku
“iya... silahkan aja, dari dulu memangnya aku pernah melarangmu untuk bicara?”
“enggak juga. Di... begini, kamu percaya apa enggak kalau ada orang yang menunggumu selama 3 tahun hanya untuk dapat mendapat senyuman manis untuknya?”
“kurasa enggak, memangnya seandainya aku yang bertanya demikian kamu akan percaya?”
“aku rasa aku percaya, dan sangat percaya...”
“kenapa...?” tanya Diyo
“karena aku adalah orang yang menunggu senyuman itu... “ tanpa tersadar air mataku menetes, padahal aku sama sekali tak menginginkanya...”aku telah menunggumu selama tiga tahun, dan kamu tahu apa yang membuatku paling bahagia senyumanmu, hanya itu. Aku menyukaimu sejak aku mengenalmu tiga tahun yang lalu. Dari saat itulah aku aku menunggu, kamu tau nggak kenapa mataku sampai bengkak gara-gara menangis semalaman itu? Itu semua karena kamu, aku melihatmu berpelukan dengan Ayu dan itu sangat sakit menurutku. Aku berusaha untuk menjadi pintar dan tampil cantik, dan itu semua karenamu.....” kataku
Diyo hanya terdiam dan menunduk. Kami berdua terjebak dalam keheningan, tak ada suara yang aku dengar kecuali suara tangisanku yang sulit sekali aku hentikan. Tiba-tiba seorang datang dan memecahkan keheningan ini. Dia Ayu.
“kak... pulang yuk.”ajak Ayu pada Diyo
Diyo meninggalkanku, pergi dengan Ayu dan tanpa mengatakan satu katapun untukku. Hanya keheningan yang ada padanya... hal yang dapat akuu lakukan sekarang ini selain menangis hanyalah menahan rasa sakitnya hati ini, yang mungkin telah diremukakan oleh orang yang aku rasa adalah orang yang aku sayang. Aku menangis dan terus menangis. Dua sahabatku datang, dan kami saling berpelukan. Aku rasa mereka berdualah yang paling mengerti perasaanku saat ini selain Tuhan.
“TAK APA SAHABATKU... aku baik. Kurasa tidak ada hal yang paling gila didunia ini yang pernah aku lakukan selain menanti cinta seseorang selama tiga tahun, dan berakhir seperti ini. Aku senang. Aku sudah dapat mengungkapkan semua perasaanku pada Diyo, apapun yang terjadi saat ini aku yakin ada hikmahnya dan aku yakin semua akan indah pada waktunya... aku bersama ataupun tidak dengan Diyo, semuanya akan sama saja kan?” kataku
Semalaman suntuk aku tidak bisa tidur karena memikirkan hal tadi, aku terus terbayang akan kejadian tadi. Saat aku ingin berhenti menangis semua itu terasa sangat berat, meskipun aku sekuat tenaga agar aku berhenti menangis... air mataku seakan-akan tak dapat dikendalikan.
            Tiga hari berlalu. Aku masih belum bisa melupakan semua itu. Aku duduk disamping meja belajarku, menatap indah mentari pagi. Di sebuah ranting pohon ada dua burung yang yang sedang bercanda ria, saling menatap. Dari ruang tamu terdengar mama memanggil namaku.
“An... An... kemari,”kata mama
“iya ma, bentaran.....”jawabku
Aku tiba di ruang tamu, terlihat mama sedang duduk sambil memegang sebuah amplop yang tidak diketahui siapa pengirimnya.
“ini ada surat, nggak tahu dari siapa, tapi untuk kamu ... tadi mama lihat ada di depan pintu jadi mama ambil aja.”
“ohhh... makasih ma.”
Aku langsung perg ke kama dan membaca surat dari tanpa nama. Aku buka surat itu dan aku baca kata-perkata. Didalam surat itu tertulis namaku.
“Hay An...
Maaf aku belum sempat minta maaf sama kamu, aku juga udah buat kamu nangis, sedih, udah buat mata kamu jadi bengkak gara-gara nengis semalaman. Dan yang paling aku sesali adalah aku membuatmu melakukan hal yang menurutku sangat gila kaya tiga hari yang lalu. Aku nggak bermaksud kaya gitu kok. Maaf ya... selama ini aku nggak pernah bilang kalau aku juga suka sama kamu, aku diam bukkan berarti aku benci dan nggak suka sama kamu, tapi aku benci sama aku sendiri. Bagaimana tidak? Aku telah membuat orang yang aku sayang menangis. Asal kamu tahu saja, bila kamu mulai suka denganku saat pertama kita kenalan kalau aku suk sama kamu saat kita belum sama-sama mengenal, saat kita pertama daftar masuk SMA. Kamu inget nggak sama orang anak yang duduk sendiri dibawah pohon karena nggak punya temen. Kamu yang menemaniku, ya... aku tahu kamu pasti nggak lihat mukaku karena aku terus menunduk. Jadi masih adakah kesempatan untukku? Jika memang aku masih punya kesempatan untuk itu, aku pingin kamu datang ke taman dekat rumahmu jam 10.00 nanti. Oh iya lupa, soal Ayu.... sebenernya Ayu itu adik Sepupuku.”
                                                                                    Diyo

 



Cerpen
 
Aku sangat senang, melihat semua itu, rasanya semua harapan yang selama ini aku pendam dan aku jaga tidak berakhir pada jalan buntu.
Aku melihat ke arah jam, jam didndingku sudah menunjukan pukul 09.50. aku langsung lari keluar dan tanpa sadar aku memakai dua sepatu yang berlainan. Saat aku tiba di taman, aku melihat Diyo sedang duduk di bangku taman dengan membawa serangkaian bunga mawar merah.
Dan seperti yang aku harapkan semuanya akan indah pada waktunya.
-TAMAT-